Tuesday, October 2, 2018

Implementasi Server OPAC Senayan

Pendahuluan


Senayan (http://senayan.diknas.go.id) merupakan aplikasi berbasis web untuk manajemen perpustakaan yang dikembangkan dengan model Open Source (http://www.opensource.org) dengan lisensi GPL versi 3 (http://www.gnu.org/licenses/gpl.html). Dengan begini setiap orang mempunyai kebebasan untuk mendownload, mempelajari, memodifikasi, dan redistribusi serta harus dilisensikan dibawah GPL.

Yang mungkin tidak banyak diketahui orang adalah, developer Senayan semuanya adalah pustakawan, atau paling tidak background formal pendidikannya adalah Jurusan Ilmu Perpustakaan. Karena itu bisa dikatakan Senayan adalah software dari pustakawan untuk pustakawan. Belakangan mulai muncul orang dengan background IT yang ikut berkontribusi dalam pengembangan Senayan. Silahkan lihat http://senayan.diknas.go.id/web/?q=developers untuk melihat profil singkat para developer Senayan.


Senayan dibuat dengan bahasa pemrogaman web PHP (http://www.php.net) dan database MySQL (http://www.mysql.com). Senayan dikembangkan dengan sangat aktif oleh para developer-nya dari beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta, Bogor dan Jogja.

Perpustakaan Diknas sebagai institusi yang membuat, menggunakan dan menjadi basecamp nya para developer Senayan, ingin membangun OPAC (Online Public Access Catalog)-nya yang berbasis Senayan yang bisa diakses via http://perpustakaan.diknas.go.id. Berikut ini adalah beberapa catatan teknis yang dilakukan untuk meng-online-kan Senayan di web.

Operating System (OS)

Dengan alasan keamanan, diputuskan untuk membuat server sendiri bagi kebutuhan OPAC. Tadinya OS yang akan digunakan adalah OpenBSD 4.3 (http://www.openbsd.org). Tetapi karena sebagian hardware tidak dapat dikenali, akhirnya digunakan OpenSUSE 11 (http://www.opensuse.org) yang merupakan distribusi Linux berbasis di Eropa dengan teknik engineering khas Jerman. Default instalasi OpenSUSE yang aman ditambah lagi dengan Yast, sangat memudahkan administrasi sistem untuk server publik di internet.

Apache, PHP dan MySQL

Apache (http://httpd.apache.org, web server), PHP (http://www.php.net, server-side scripting language), dan MySQL (http://www.mysql.com, database server) diinstall dari paket binary OpenSUSE. Beberapa bahkan sudah ditingkatkan keamanannya misalnya patch PHP dengan Suhosin (http://www.hardened-php.net/suhosin/). Dengan menginstall software dari paket binary distro OpenSUSE, proses upgrade software relatif lebih simpel dan mudah dilakukan. Modul untuk secure socket layer (SSL) di Apache juga diaktifkan. Dokumentasi cara mengaktifkan SSL di Apache untuk OpenSUSE bisa dibaca di http://en.opensuse.org/Apache_Howto_SSL.

Firewall dengan iptables

Karena kebutuhan yang masih sederhana, setup firewall (iptables) dilakukan melalui Yast2 (Yet Another Setup Tool). Port yang dibuka buat publik adalah port 80 (http), 443 (https), dan 22 (ssh). Akses http dan https untuk mengakses layanan web. Sedangkan akses ssh bergunakan untuk transfer update data terenkripsi dari server produksi perpustakaan diknas ke server opac. Tetapi akses ssh, meskipun akses datanya terenkripsi, diasumsikan sebagai akses backdoor sehingga membuka aksesnya terhadap publik dapat dianggap merupakan celah keamanan. Untuk itu akses ssh dibatasi hanya menerima dari IP tertentu. Cara dengan mengedit file /etc/hosts.allow dan tambahkan entri:

sshd : xxx.xxx.xxx.xxx : allow
sshd : ALL : deny


xxx.xxx.xxx.xxx adalah  alamat IP yang diizinkan untuk mengakses port 22/ssh. Selain itu akses langsung sebagai root/superuser dicegah dengan mengedit file /etc/sshd_config dan mengubah baris:
#PermitRootLogin yes menjadi PermitRootLogin no. Detailnya bisa dibaca di: http://en.opensuse.org/SUSE_Security_Lockdown_-_Hardening_Your_Linux_System.

Firewall aplikasi web: mod_security

Untuk meningkatkan keamanan aplikasi web, diinstal juga mod_security (http://www.modsecurity.org/) yang merupakan modul Apache. mod_security berada di level aplikasi web dan membantu menutupi kemungkinan celah yang muncul dari lemahnya sebuah aplikasi web seperti kemungkinan injeksi sql, cross-site scripting, web intrusion, dan lain-lain. mod_security bekerja dengan cara mencegah semua trafik http, mengeceknya dengan rules yang sudah didefinisikan, dan mencegah aktifitas yang dinilai mencurigakan.

mod_security bisa didownload di http://www.modsecurity.org/download/direct.html. Di OpenSUSE, harus diinstall melalui source code. Detail cara instalasinya bisa dibaca di: http://www.howtoforge.com/installing-mod-security-on-sles10. Pada beberapa server yang diakses berdasarkan IP address, default rules mod_security akan menimbulkan error. Untuk mengatasi hal tersebut, edit file modsecurity_crs_21_protocol_anomalies.conf, cari baris:

# Check that the host header is not an IP address

tambahkan karakter “#” pada baris dibawahnya (#SecRule REQUEST_HEADERS:Host "^[\d\.]+$" "phase:2).

Firewall database: greensql

Untuk menambahkan keamanan di level database dari serangan injeksi SQL, ditambahkan firewall greensql (http://www.greensql.net/). Jadi kalau digambarkan keterhubungan antara Apache, PHP, MySQL, mod_security dan greensql, kira-kira akan seperti ini:

Apache --- mod_security --- PHP --- greensql --- MySQL

Paket instalasi untuk OpenSUSE dalam bentuk binary (RPM) sudah tersedia di situs greensql. Untuk menginstal-nya ketikkan:

rpm -ivh greensql-fw-0.9.4-12.1.i586.rpm

Ketika proses instalasi ada beberapa pertanyaan yang harus diisi terkait dengan username dan password untuk database greensql.

greensql akan berjalan sebagai service pada port 3305. Pastikan service greensql berjalan ketika start-up (gunakan Yast2). greensql hanya menerima koneksi via TCP/IP, tidak menerima koneksi via socket. Nantinya setting koneksi di senayan untuk port diarahkan dari 3306 (MySQL) langsung ke 3305. Host nya diubah dari localhost ke 127.0.0.1.

Untuk memudahkan memonitor trafik sql, install juga greensql console. Merupakan aplikasi berbasis web (PHP) yang melihat alert trafik, meng-allow trafik, mengamati log, dan lain-lain. Tinggal ekstrak greensql-console ke web document root. Sesuaikan konfigurasi database dengan meng-edit file config.php.

Pada beberapa server dengan setting keamanan PHP tinggi, default instalasi greensql-console akan bermasalah karena beberapa file processing instruction PHP-nya tidak lengkap (hanya <?, bukan <?php ). Versi greensql-console yang sudah saya patch dan saya tambahkan fitur pembatasan akses berdasarkan port dan IP bisa didownload di http://perpustakaan.diknas.go.id/download/greensql-console.0.4.4-patched.tar.gz. Silahkan baca file notes.txt untuk detail perubahannya.

Instalasi Senayan

Memindahkan Senayan ke server lain sebenarnya mudah saja. Cukup kopi folder senayan yang berada di bawah web document root (dengan asumsi setting default) dan dump data MySQL untuk database Senayan. Setelah di kopi ke server opac, buat database Senayan di server opac. Login ke MySQL console sebagai user yang punya akses untuk membuat database dan user, serta memberikan pembatasan akses.

mysql> CREATE DATABASE senayandb;
mysql> GRANT SELECT ON senayandb.* TO 'senayanuser'@'localhost' IDENTIFIED BY 'rahasia';


Perintah pertama membuat database dengan nama senayandb. Perintah kedua memberikan HANYA akses SELECT ke database “senayandb” untuk user dengan nama “senayanuser” dan dengan password “rahasia”. Karena OPAC di Senayan hanya membutuhkan akses SELECT ke database, maka seandai ada hacker yang berhasil melewati pengamanan di mod_security dan greensql, dia tidak bisa melakukan akses tulis.

Sekarang import dump data MySQL (sebagai user yang punya hak untuk insert data):
shell> mysql -u root -p senayandb < senayandata.sql

Kemudian kopi folder senayan di web document root. Berikan akses agar web server bisa menulis ke folder “files” dan “images”. Edit file sysconfig.inc.php dan ubah setting koneksi ke MySQL, kira-kira menjadi seperti ini:

define('DB_HOST', '127.0.0.1');
define('DB_PORT', '3305');
define('DB_NAME', 'senayandb');
define('DB_USERNAME', 'senayanuser');
define('DB_PASSWORD', 'rahasia');


Untuk meningkatkan keamanan, hapus folder admin yang terdapat didalam folder Senayan karena OPAC tidak membutuhkannya.

Akses lebih cepat dengan halaman statik

Untuk mempercepat akses halaman utama, usahakan agar user tidak mengakses file index.php secara langsung ketika pertama kali mengakses OPAC. Buatlah halaman HTML statik. Ada banyak cara yang bisa digunakan, salah satunya dengan menggunakan program lynx (browser berbasis teks). Jalankan perintah (diasumsikan sedang berada di server opac, baik langsung maupun remote):

shell> lynx -source http://localhost/senayanopac/index.php > /srv/www/htdocs/senayanopac/index.html

(Pada OpenSUSE, web document root berada pada “/srv/www/htdocs”).
Jadi nanti ketika user berkunjung, diarahkan ke file index.html yang diakses lebih cepat karena berupa HTML statik.

Update data berkala

Update di set setiap jam server perpustakaan melakukan sinkronisasi dengan server opac. Agar aman transfer data dilakukan dengan protokol ssh. Untuk itu ada beberapa hal yang harus dilakukan.

Membangun login non-interaktif

Agar server perpustakaan bisa meng-update data di server opac, server perpustakaan harus bisa melakukan login ke server opac secara non-interaktif. Untuk itu server opac harus menyimpan informasi public key dari server perpustakaan.

Pada server perpustakaan (diasumsikan berada pada root directory), lakukan:
shell> ssh-keygen

Akan tercipta dua file pada direktori “.ssh”. Yaitu id_rsa dan id_rsa.pub. File id_rsa.pub nanti akan di copy ke direktori .ssh pada server opac dan diberinama authorized_keys.
shell> scp .ssh/id_rsa.pub hendro@yyy.yyy.yyy.yyy:.ssh/authorized_keys
yyy.yyy.yyy.yyy adalah alamat IP atau nama host server opac. “hendro” adalah username untuk login ke server opac. Setelah ini setiap kali hendak melakukan login dari server perpustakaan ke server opac, tidak akan ditanyakan username dan password lagi.

Membuat skrip update pada server perpustakaan

Buat direktori output_dir yang akan dijadikan tempat menampung file-file yang akan dikopi ke server opac. File dan direktori yang akan di kopi ke server opac adalah:
  1. File berisi dump data sql. Lakukan dengan program mysqldump dengan menggunakan user database yang punya hak akses untuk melakukan aksi dump data.
  2. Direktori images dan files yang berada di direktori Senayan.
Sebelumnya buat direktori “output_dir” yang akan menampung hasil dari proses dump data sql dan copy direktori images dan files. Kemudian buat file “updatesenayan.sh” dan masukkan baris-baris berikut ini (diasumsikan nama direktori senayan di server perpustakaan adalah “libsenayan”):

#!/bin/sh
/usr/bin/mysqldump -u root --password='rahasiadong' senayandb > /home/hendro/output_dir/senayan.sql
cp -R /usr/local/httpd22/htdocs/libsenayan/files /home/hendro/output_dir/
cp -R /usr/local/httpd22/htdocs/libsenayan/images /home/hendro/output_dir/
rsync -e ssh -a -z /home/hendro/output_dir hendro@118.98.232.10:/home/hendro/


Baris kedua adalah sintak untuk melakukan dump data sql dengan mysqldump. Opsi --password digunakan agar proses bisa dijalankan non-interaktif. Outputnya disimpan dalam direktori output_dir dan diberinama “senayan.sql”.
Baris ketiga dan keempat meng-copy folder “images” dan “files” dan menyimpan ke direktori output_dir.
Baris keempat melakukan proses sinkronisasi dengan program program rsync, melalui protokol ssh (secure connection). Folder yang disinkronkan adalah folder output_dir.
Jangan lupa, pastikan file updatesenayan.sh diberi file permission untuk eksekusi (chmod 700).

Untuk menjalankannya secara periodik otomatis, gunakan cron di Linux. Ketikkan “crontab -e”, tekan i (masuk ke insert mode), ketikkan:
59 * * * * /home/hendro/cron_script/updatesenayan.sh
atau
0 * * * * /home/hendro/cron_script/updatesenayan.sh

Hasilnya sama saja, menjalankan file updatesenayan.sh setiap 60 menit sekali. Untuk keluar dan menyimpan dari editor crontab, tekan escape (Esc), titik dua (:), w dan q (wq), kemudian Enter.

Membuat skrip update pada server opac

Hampir sama dengan skrip updatesenayan.sh pada server perpustakaan, yang dilakukan pada server opac adalah sebaliknya. Hanya saja proses dijalankan oleh user yang mempunyai akses tulis ke database senayandb dan ke web document root (direktori senayanopac).  Diasumsikan nama direktori senayan di server perpustakaan adalah “senayanopac”.

#!/bin/sh
/usr/bin/mysql -u root –password='rahasiadong' senayandb < /home/hendro/output_dir/senayan.sql
cp -R /home/hendro/output_dir/images /srv/www/htdocs/senayanopac/
cp -R /home/hendro/output_dir/files /srv/www/htdocs/senayanopac/
lynx -source http://localhost/senayanopac/index.php > /srv/www/htdocs/senayanopac/index.html


Jangan lupa masukkan ke cron dengan cara seperti pada server perpustakaan.

Selamat mencoba! :)


¶ Tulisan ini diposting ulang tanpa perubahan tanpa penyuntingan teks , teks asli diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , Arsip Multiply diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018

Model Open Source Untuk Mengembangkan Kompetensi Diri

Sebagian dari Anda tentu kenal dengan gerakan open source yang
meramaikan dan turut memacu inovasi di bidang TI; suatu model
pengembangan perangkat lunak secara terbuka yang memungkinkan akses ke
source code program dan mendorong keterlibatan tiap orang agar
berkontribusi dalam pengembangan software. Ada banyak program open
source yang tersedia, diantaranya yang populer adalah Linux.

Foto ini untuk Pelengkap artikel , pada artikel asli tidak terdapat foto
Eric S. Raymond mengatakan model pengembangan software yang terbuka
seperti ini dengan istilah The Bazaar. Dalam sebuah bazaar, tiap orang
datang dengan kepentingannya masing-masing. Mereka boleh melihat
sepuas-puasnya barang-barang yang ditawarkan. Bila tertarik, mereka
diberi kebebasan untuk mencoba dan memperbaikinya bersama-sama. Ini
berbeda dengan model pengembangan software konvensional yang
dikembangkan secara tertutup oleh segelintir orang (The Cathedral). Bisa
dikatakan, gerakan open source telah menemukan momentumnya seiring
dengan mudahnya akses internet yang memungkinkan para pengembang
perangkat lunak dari seluruh dunia saling berkomunikasi dan bertukar
program.

Saya pernah aktif mengembangkan perangkat open source yang saya namakan
Igloo OpenSource (selanjutnya disebut Igloo). Apa itu Igloo? Adalah
aplikasi yang digunakan untuk meng-online-kan database ISIS di web.
Sedangkan ISIS adalah aplikasi freeware yang dibuat oleh UNESCO untuk
kebutuhan data bibliografi. ISIS banyak digunakan di perpustakaan negara
berkembang termasuk Indonesia. Sewaktu teknologi komputer mulai
diimplementasikan di perpustakaan, ISIS termasuk salah satu perangkat
lunak yang paling banyak digunakan. Sampai saat ini, implementasi ISIS
di Indonesia bahkan sudah sampai ke berbagai pelosok. Sungguh suatu
pangsa pasar yang luar biasa besar.

Sewaktu ISIS dibuat oleh UNESCO, perkembangan internet belum sepesat
sekarang. Web bahkan belum ada. Sehingga sewaktu web mulai banyak
digunakan sebagai media penyebaran informasi, mulai muncul masalah
bagaimana meng-online-kan ISIS di web. Saya, yang seorang pengangguran
kala itu, melihat ada ceruk pasar yang bisa dimanfaatkan yaitu membuat
web companion untuk ISIS.

Untuk bahasa pemrogaman web, saya gunakan PHP (www.php.net) yang
merupakan bahasa pemrogaman web open source yang paling populer. Agar
PHP bisa membaca database ISIS secara natif diperlukan modul tambahan.
Untung ada PHP-Openisis yang merupakan PHP extension module yang dibuat
menggunakan C library dari OpenISIS. Baik OpenISIS dan PHP-Openisis juga
merupakan perangkat lunak open source. That's the beauty of Open Source,
Knowledge Sharing!

Rilis Igloo pertama kali ke publik adalah versi 1.4 sekitar awal
September 2004. Setiap rilis diumumkan dibanyak milis (mailing list)
komunitas pustakawan Indonesia seperti the_ics@yahoogroups.com, tetapi
diskusi teknis Igloo banyak dilakukan di milis ics-isis@yahoogroups.com.
Distribusi file Igloo masih menggunakan web hosting gratisan di
geocities.com. Berikutnya dirilis versi 1.5 dan versi 1.6. Sampai versi
1.6 inisiatif pengembangan Igloo masih dilakukan sendiri oleh saya dan
belum mendapat kontribusi dari komunitas pemakai ISIS.

Setelah rilis 1.6, mulai banyak bug report dari pemakai Igloo. Ini
berita bagus, karena model open source mulai bekerja. Mulailah dirilis
versi 1.7, 1.8, 2.0, 2.1, 2.2, 2.3, 3.0, 4.0, dan yang paling baru versi
5.0 untuk menjawab semua masukan dari pemakai. Igloo sekarang tidak
hanya bisa digunakan untuk meng-online-kan ISIS ke web, tetapi juga bisa
digunakan untuk membangun database foto dan perpustakaan dijital. Karena
permintaan pemakai pula, dibuat juga versi Igloo untuk distribusi lewat
CD-ROM yang diberinama "Distro" (distributable Igloo). Sedangkan untuk
kebutuhan automasi sistem perpustakaan dibuatlah X-Igloo. Kontribusi
pemakai Igloo sekarang tidak lagi sekedar bug reporting, tetapi juga
sudah melakukan perbaikan coding program secara langsung. Ini luar biasa
mengingat komunitas pustakawan relatif pemahaman TI-nya lebih terbatas.
Dukungan juga datang dari perpustakaan pusat ITB dalam bentuk web
hosting gratis sehingga situs web Igloo bisa diakses di
http://igloo.lib.itb.ac.id. Kunci sukses Igloo adalah: Release early.
Release often. And listen to your customers!

Apa manfaat yang saya dapat dari pengembangan Igloo? Yang jelas saya
merasa kompetensi saya melesat jauh. Saya di-"paksa" untuk belajar
banyak hal. Dari sisi teknis TI saya belajar membangun aplikasi PHP yang
aman, reliable dan minimum resource usage. Juga belajar membangun API
dan tehnik coding dengan source code yang readable sehingga mudah
dipelajari oleh programmer lain. Saya juga harus mempelajari (meski
sedikit) implementasi ragam protokol web seperti HTTP, XHTML, CSS,
Aksesibilitas, Semantik Web, dan lain-lain.

Dari sisi non-teknis saya belajar merancang desain aplikasi,
dokumentasi, dan manajemen SDM. Tanpa desain aplikasi yang baik, akan
kesulitan dalam pengambilan keputusan dari banyaknya masukan yang ada.
Tanpa dokumentasi yang baik, aplikasi sebaik apapun, bakal sulit
digunakan orang. Motivasi adalah faktor utama sebuah proyek open source
agar bisa terus berjalan. Untuk itu perlu dijaga faktor motivasi dan ego
tiap pemakainya.

Selain masalah kompetensi, ada hal-hal menyenangkan lainnya yang saya
dapat dari mengembangkan aplikasi open source. Pertama, diapresiasi oleh
banyak orang. Saya makin dikenal oleh banyak komunitas pustakawan, tidak
hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri. Kedua, dianggap kompeten
mengenai implementasi TI di perpustakaan. Terkadang bahkan sering dikira
sarjana komputer atau lulusan ITB, padahal saya dulu kuliah di Fakultas
Sastra. Ketiga, rasa senang karena aplikasi buatan penulis digunakan di
banyak perpustakaan dalam dan luar negeri seperti beberapa negara
Amerika Latin. Keempat, mendapatkan penghasilan tambahan dari berbagai
perpustakaan yang menginginkan dedicated support untuk implementasi
Igloo, termasuk kustomisasinya. Kelima, menambah portofolio, sehingga
sangat berguna dalam mencari pekerjaan. It works well for me! Selamat
mencoba!

¶ Tulisan ini diposting ulang tanpa perubahan tanpa penyuntingan teks , teks asli diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , Arsip Multiply diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018

Membangun Sistem Manajemen Pengetahuan Untuk Pemakai Perpustakaan Berbasis Intranet Menggunakan Perangkat Lunak OpenSource

Oleh: Hendro Wicaksono

Pendahuluan
Istilah dan konsep Intranet sebenarnya bukan merupakan hal baru. Konsep tersebut muncul tidak lama setelah Internet populer. Secara sederhana, Intranet dapat didefinisikan sebagai implementasi teknologi Internet pada jaringan komputer lokal (Local Area Network).

Di banyak institusi, Intranet banyak diimplementasikan karena bisa digunakan pada jaringan komputer yang sudah ada (existing network). Hal ini disebabkan karena hampir semua sistem operasi modern seperti Windows, Unix, dan GNU/Linux menggunakan protokol TCP/IP untuk hubungan antar komputer. Protokol yang juga digunakan untuk Internet.

Dengan Intranet, semua media dan aplikasi yang populer di Internet, bisa juga dimanfaatkan pada jaringan lokal. Intranet juga menjadi infrastruktur bagi sarana komunikasi yang cross-platform (tidak tergantung pada sistem operasi tertentu), dan memudahkan dalam mencari informasi karena pemakai hanya dihadapkan pada satu antarmuka (interface).

Sebenarnya ada banyak media yang bisa digunakan pada Intranet. Tapi yang paling populer adalah web. Sehingga seringkali Intranet diidentikkan dengan web. Dalam tulisan ini, media yang digunakan pada Intranet adalah web. Dengan pertimbangan ketersediaan aplikasi dan kebanyakan pemakai perpustakaan sudah terbiasa dengan antarmuka web.

Foto ini untuk Pelengkap artikel , pada artikel asli tidak terdapat foto
Dalam pengamatan penulis, sejauh ini Intranet masih sangat jarang dimanfaatkan untuk memperluas jenis layanan dan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan berbasis Teknologi Informasi (TI). Rata-rata perpustakaan baru memberikan layanan berbasis TI sebatas sistem automasi perpustakaan (termasuk didalamnya katalog terpasang). Itupun seringkali tergantung pada aplikasi tertentu. Padahal ada banyak jenis layanan yang bisa dikembangkan untuk pemakai perpustakaan dengan teknologi Intranet.

Ada beberapa sebab kenapa Perpustakaan belum banyak mengimplementasikan Intranet. Pertama, pustakawan belum punya cukup kapabilitas untuk melakukan itu. Karena untuk mengimplementasikan Intranet perlu pengetahuan yang cukup baik pemahaman terhadap TI dan perpustakaan itu sendiri. Masalah ini bisa dipecahkan dengan melakukan kerjasama antara perpustakaan dengan bagian TI di institusi dimana perpustakaan tersebut ada.

Kedua, mungkin saja pustakawan belum punya ide detail tentang apa saja layanan perpustakaan yang bisa dikembangkan dengan adanya Intranet. Tulisan akan membahas masalah kedua. Yaitu implementasi Intranet menggunakan perangkat lunak Open Source, dan dikaitkan dengan sistem manajemen pengetahuan bagi pemakai perpustakaan.

Manajemen Pengetahuan

Membahas Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) akan terkait dengan pembahasan Manajemen Informasi (Information Management). Untuk memahami kedua istilah tersebut, harus dimulai dulu dengan memahami beda antara Informasi dan Pengetahuan.

Informasi dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang kita bagi melalui beragam media komunikasi yang ada (Information is something that we share). Sedangkan Pengetahuan adalah sesuatu yang masih ada dalam pikiran kita (Knowledge is something that is still in our mind). Kemudian dapat disimpulkan, Informasi adalah Pengetahuan yang dibagi atau dikomunikasikan melalui beragam media yang ada (Information is shared knowledge).

(LIHAT GAMBAR NO. 01. Information is shared knowledge. http://hendrowicaksono.multiply.com/photos/photo/10/1.gif)

Setelah memahami beda Informasi dan Pengetahuan, selanjutnya mendefinisikan Manajemen Informasi dan Manajemen Pengetahuan.

Manajemen Informasi adalah teknik pengaturan atau organisasi agar Informasi (shared knowledge) mudah dicari dan digunakan kembali oleh pemakai. Yang termasuk dalam proses Manajemen Informasi antara lain: pengadaan informasi, pengolahan informasi, kemas-ulang informasi, dan temubalik informasi.

Sedangkan Manajemen Pengetahuan adalah teknik membangun lingkungan pembelajaran (learning environment), dimana orang-orang didalamnya terus termotivasi untuk belajar, memanfaatkan informasi yang ada, serta pada akhirnya mau berbagi Pengetahuan baru yang dihasilkannya.

Dalam konteks artikel ini, yang dimaksud dengan “Sistem Manajemen Pengetahuan Bagi Pemakai Perpustakaan” adalah sistem (lingkungan pembelajaran) dimana pemakai perpustakaan tidak hanya bisa menelusur katalog terpasang, tetapi juga secara interaktif dan aktif mencari informasi, terus termotivasi untuk belajar (membaca, berdiskusi, memberikan komentar), dan dimotivasi untuk mau berbagi pengetahuan. Sistem Manajemen Pengetahuan yang bekerja dengan baik, akan membentuk komunitas para pembelajar yang dalam skala sosial besar, akan menjadi manusia-manusia produktif yang mampu melakukan perbaikan pada faktor-faktor sosial dan budaya masyarakat.

Yang harus diperhatikan adalah, orang akan termotivasi untuk belajar jika ia tertarik dengan apa yang akan ia pelajari (learning is remembering what you’re interested in). Karena itu, pustakawan perlu tahu dahulu bidang apa saja yang menjadi interes pemakai. Tiap orang mempunyai pola dan proses pembelajaran serta interes yang berbeda-beda. Untuk itu perlu ada penelitian yang mendalam tentang kebutuhan pemakai. Model penelitian kualitatif cocok untuk menggambarkan secara detail pola komunikasi dan pembelajaran pemakai perpustakaan.

Perangkat Lunak OpenSource

Tahun 1984, Richard M. Stallman, seorang hacker di Lab Artificial Intelligence MIT, keluar dari MIT dan mendirikan suatu yayasan yang dinamakan free software foundation (FSF). Yayasan ini dibuat untuk mempromosikan kebebasan tiap individu untuk:
  • menjalankan program komputer untuk tujuan apapun.
  • memodifikasi program agar sesuai dengan kebutuhan (mensyaratkan akses ke source code program).
  • Mendistribusikan hasil modifikasi program, sehingga orang lain bisa memperoleh manfaat dari perbaikan yang dilakukan.
Gerakan ini populer dengan nama free software movement. Lisensi yang digunakan oleh gerakan free software adalah GNU/GPL (Gnu is Not Unix/General Public License). Sebagian orang juga menjuluki lisensi ini sebagai Copyleft (lawan dari Copyright). Inti dari lisensi ini adalah: “pada setiap program dengan lisensi GNU/GPL, setiap individu punya kebebasan memperoleh source code program untuk digunakan dan dimodifikasi. Tetapi hasil modifikasi juga harus dirilis dengan lisensi yang sama (GNU/GPL)”. Gerakan free software semakin populer ketika Linux muncul dan menjadikan gerakan ini mempunyai alternatif sistem operasi lengkap yang benar-benar mengikuti kaidah GNU/GPL dan dapat diandalkan skalabilitasnya.

Awal 1997, sekelompok hacker seperti Eric S. Raymond, Tim Oreilly, dan Bruce Perens, berkumpul dan membicarakan bagaimana caranya agar gerakan free software bisa lebih diterima di lingkungan bisnis. Mereka merasa istilah “free” pada free software sering disalahartikan sebagai GRATIS, bukan sebagai kebebasan (freedom).  Kemudian muncul ide untuk menggunakan istilah Open Source software yang dirasa lebih business-friendly.

Dengan Open Source, beragam jenis lisensi bisa terakomodasi diantaranya: GNU/GPL, LGPL (Lesser GPL), BSD (Berkeley Software Distribution), NPL (Netscape Public License), MPL (Mozilla Public License) dan Public Domain. Seiring makin populernya gerakan Open Source, semakin banyak pula perangkat lunak yang dibuat dan dirilis sebagai Open Source Software dan banyak dimanfaatkan oleh kalangan bisnis. Beberapa yang populer diantaranya:
  • Apache (web server)
  • MySQL, PostgreSQL, Firebird, SAP DB (database server)
  • Perl, PHP, Python, Tcl, Tk, Ruby (bahasa skripting)
  • GNU/Linux, FreeBSD, NetBSD, OpenBSD (sistem operasi)
  • Sendmail, Qmail, Postfix (mail server)
  • Djbdns, BIND (DNS server)
  • dan lain-lain
Saat ini dapat dikatakan, hampir seluruh infrastruktur internet dan sebagian besar aplikasi yang berjalan diatasnya, menggunakan aplikasi-aplikasi Open Source.

Aplikasi Open Source Untuk Manajemen Pengetahuan

Sebelum melihat aplikasi Open Source apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk membangun sistem Manajemen Pengetahuan bagi pemakai perpustakaan, yang harus dilakukan dahulu adalah memetakan dahulu proses penciptaan pengetahuan. Gambar dibawah secara sederhana dapat menggambarkan proses penciptaan pengetahuan di perpustakaan.

(LIHAT GAMBAR NO. 02. Alur Proses Penciptaan Pengetahuan di Perpustakaan. http://hendrowicaksono.multiply.com/photos/photo/10/3.gif).

Information Acquisition (Proses Pengadaan Informasi)

Proses pengadaan informasi adalah proses mengumpulkan beragam informasi dari berbagai sumber yang dianggap relevan dengan interes komunitas pemakai sistem Manajemen Pengetahuan. Karena itu, proses ini harus dilakukan berdasarkan survei kebutuhan dan interes anggota komunitas yang yang telah dilakukan terlebih dahulu. Sumber informasi tidak hanya berasal dari Internet, tetapi juga dari sumber informasi yang didistribusikan dalam bentuk offline, seperti CDROM atau DVDROM.

Untuk memudahkan pustakawan mencari beragam informasi di Internet yang secara aktif selalu diupdate, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, sebaiknya pustakawan bergabung didalam forum diskusi komunitas. Model komunikasi yang banyak dipakai adalah mailing list dan newsgroup. Atau bila memungkinkan, pustakawan juga mengikuti forum diskusi yang “underground”. Pada beragam forum diskusi ini, biasanya (dan seringkali) terdapat berbagai informasi penting yang sulit didapat bila dicari melalui mesin pencari (search engine). Terkadang informasi yang ada sifatnya temporer, sehingga harus cepat diambil sebelum dihapus dari server penyimpanannya.

Kedua, pustakawan bisa memanfaatkan beragam teknologi Open Source yang tersedia. Misalnya:

Web Service (WS). WS adalah sistem perangkat lunak yang didesain untuk mendukung interoperabilitas antar mesin melalui jaringan komputer. WS banyak dimanfaatkan untuk beberapa hal:
  • Distribusi konten (content distribution). Yaitu menawarkan informasi yang dapat di ambil (grab) oleh situs lain.
  • Pengumpulan konten (content gathering). Yaitu mengumpulkan informasi dari berbagai sumber informasi (situs).
  • Pialang Konten (content brokering). Yaitu mendistribusikan kembali kumpulan konten yang telah di kemas-ulang (repackaging).
  • Jaringan Konten (content networking). Yaitu membangun jaringan informasi untuk distribusi pengetahuan antar anggota komunitas.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai standar dan implementasi WS, bisa melihat situs World Wide Web Consortium (www.w3c.org).

Membangun aplikasi yang memudahkan pustakawan dalam melihat update situs, men-download situs, dan membuat agen cerdas yang secara berkala melakukan pencarian. Bahasa pemrogaman yang banyak digunakan adalah Perl (www.perl.com) dan modul LWP (Library for World Wide Web in Perl, www.cpan.org). Memang agak sulit membangun aplikasi dengan Perl karena kurva pembelajaran (learning curve) yang cukup vertikal, tetapi ia menawarkan fleksibilitas yang sangat baik untuk disesuaikan dengan kebutuhan pencarian informasi hingga sangat detail.

Tersedia juga aplikasi yang punya kemampuan dan fitur mirip Perl dan LWP, tetapi mudah digunakan yaitu httrack (www.httrack.com). Versi Windowsnya juga tersedia (Winhttrack). Httrack tidak hanya mempunyai antarmuka grafis, tetapi juga antarmuka berbasis baris perintah (command line).

Pada proses pengadaan informasi, ada dua jenis informasi yang dikumpulkan. Pertama Unstructured Information (informasi yang tidak terstruktur) dan Structured Information (informasi yang tidak terstruktur). Unstructured Information adalah informasi yang tidak mendalam tentang suatu topik. Contohnya adalah artikel surat kabar. Sedangkan Unstructured Information adalah (sekumpulan) informasi yang mendalam dan detail tentang suatu topik. Unstructured Information disimpan dan menjadi bagian penting dalam Unstructured Knowledge Creation (Penciptaan Pengetahuan yang Tidak Terstruktur), sedangkan Structured Information disimpan dalam sistem repository (digital library).

Unstructured Knowledge Creation (Penciptaan Pengetahuan Yang Tidak Terstruktur)

Unstructured Knowledge Creation adalah proses pembelajaran komunitas yang cenderung tidak terstruktur. Tidak terstruktur dalam hal pengetahuan yang dihasilkan belum mendalam dan belum fokus pada suatu topik interes tertentu. Tujuan proses ini adalah:
  • Agar anggota komunitas mau, berani dan termotivasi berbagi pengetahuan (knowledge sharing).
  • Agar anggota komunitas terbiasa dengan sistem manajemen pengetahuan yang akan digunakan.
Contoh proses Unstructured Knowledge Creation: pustakawan mem-posting beberapa artikel surat kabar dari berbagai sumber. Kemudian anggota komunitas bisa memberikan timbal balik atau komentar terhadap artikel-artikel yang menjadi interesnya. Anggota komunitas yang lain juga bisa memberikan komentar terhadap komentar yang ada.

Ada banyak aplikasi Open Source yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan Unstructured Knowledge Creation, diantaranya: Postnuke (www.postnuke.com), PHPNuke (www.phpnuke.org), dan Drupal (www.drupal.org). Semuanya merupakan aplikasi Content Management System yang dikembangkan dengan bahasa pemrogaman PHP dan database MySQL. Biasanya digunakan untuk keperluan berbagi informasi suatu komunitas.

Pada proses ini, pustakawan bisa juga sesekali ikut memberikan komentar agar anggota komunitas yang lain ikut termotivasi menanggapi artikel atau komentar yang ada. Selain itu, tugas paling penting untuk pustakawan dalam proses ini adalah, mengamati topik apa saja yang menjadi interes banyak anggota komunitas yang lain. Topik-topik yang menjadi interes, menjadi masukan (feedback) bagi pustakawan untuk mencari structured information terkait dengan topik tersebut (lihat panah 2 arah antara proses Information Acquisition dengan Unstructured Knowledge Creation).

Pustakawan juga harus mendorong anggota komunitas agar melakukan pembelajaran yang lebih spesifik sesuai dengan topik yang menjadi interesnya pada Discussion Forum (forum diskusi) atau langsung ke proses Structured Knowledge Creation.

Discussion Forum (Forum Diskusi, Semi-structured Knowledge Creation)

Setelah pustakawan mendapatkan topik interes anggota komunitas, maka tahap berikutnya adalah mengajak anggota komunitas untuk mendiskusikannya secara lebih spesifik dan terstruktur pada Discussion Forum. Jika memungkinkan, pustakawan juga bisa mendorong anggota komunitas langsung ke proses Structured Knowledge Creation (Penciptaan Pengetahuan Yang Terstruktur). Tapi ini relatif sulit dilakukan karena untuk menghasilkan pengetahuan yang terstruktur relatif butuh waktu dan proses yang tidak sebentar. Yang paling mudah adalah membuat pengetahuan yang tidak terstruktur menjadi lebih terstruktur dalam Discussion Forum. Bisa dibilang Discussion Forum adalah Semi-structured Knowledge Creation (Penciptaan Pengetahuan Yang Semi Terstruktur).

Dalam proses ini, pustakawan ikut bergabung didalam Discussion Forum. Pustakawan boleh ikut berbagi pengetahuan. Yang paling penting adalah, pustakawan juga harus memahami topik yang sedang didiskusikan. Ini akan memudahkan dalam proses berikutnya (Structured Knowledge Creation). Anggota komunitas juga harus diberikan akses ke sumber referensi pengetahuan yang telah dikumpulkan pustakawan dan disimpan pada sistem repository. Pengetahuan yang dihasilkan pada Discussion Forum, jika dianggap baik, juga bisa disimpan langsung pada sistem repository (lihat panah 2 arah antara proses Digital Library dengan Discussion Forum).

Ada beberapa aplikasi Open Source untuk membuat Discussion Forum, tetapi yang paling populer adalah PHPBB (www.phpbb.com). PHPBB dikembangkan menggunakan bahasa pemrogaman PHP dan database MySQL. PHPBB mudah digunakan dan mempunyai banyak komunitas pemakai.

Structured Knowledge Creation (Penciptaan Pengetahuan Yang Terstruktur)

Pada saat proses di Discussion Forum, bila dirasa pengetahuan yang tercipta telah cukup detail dan terstruktur, maka pustakawan harus mengarahkan kegiatan pembelajaran pada proses berikutnya, yaitu Structured Knowledge Creation. Dalam proses penciptaan pengetahuan, proses ini merupakan proses yang sangat penting. Bisa dianggap puncaknya proses penciptaan pengetahuan. Proses ini merupakan kelanjutan dari proses Discussion Forum (semi-structured knowledge creation). Juga bisa merupakan kelanjutan dari proses Unstructured Knowledge Creation, meskipun hal ini jarang terjadi.

Pada proses ini, biasanya kontribusi dari anggota komunitas relatif berkurang. Ini dikarenakan tingkat kesulitannya yang cukup tinggi. Untuk mengatasi masalah ini, pustakawan bisa membantu dengan membuat kerangka struktur pengetahuan dan melakukan kemas-ulang pengetahuan yang didapat dari Discussion Forum dan sumber referensi. Tapi anggota komunitas diharapkan sebagai kontributor pengetahuan pada proses ini.

Bisa saja ketika suatu topik interes sudah mencapai proses Structured Knowledge Creation, tapi topik tersebut tetap terus didiskusikan ditahap Discussion Forum. Jadi bisa juga Discussion Forum tempat membahas topik interes dan menghasilkan pengetahuan baru, sedangkan Structured Knowledge Creation tempat menyimpan pengetahuan yang sudah disepakati bersama (lihat panah 2 arah antara proses Discussion Forum dengan Structured Knowledge Creation).

Pengetahuan yang tercipta pada proses ini, selanjutnya disimpan pada sistem repository sehingga bisa menjadi referensi kembali pada proses Structured Knowledge Creation (lihat panah 2 arah antara proses Structured Knowledge Creation dengan Digital Library) maupun Discussion Forum (lihat panah 2 arah antara proses Discussion Forum dengan Digital Library).

Aplikasi Open Source yang bisa dimanfaatkan untuk proses ini adalah Wiki. Wiki adalah konsep aplikasi untuk kolaborasi di Internet. Wiki biasanya digunakan untuk membuat pengetahuan terstruktur bersama-sama lewat internet. Selama ini Wiki banyak digunakan untuk membuat buku, dokumentasi dan ensiklopedia secara kolaborasi. Salah satu aplikasi Wiki yang banyak dipakai adalah MediaWiki (www.mediawiki.org).

Sistem Repository (Digital Library)

Digital Library berfungsi sebagai:
  • Tempat menyimpan Structured Information yang dikumpulkan dari berbagai sumber informasi.
  • Sumber referensi bagi proses pembelajaran di Discussion Forum dan Structured Knowledge Creation.
  • Tempat menyimpan pengetahuan yang dihasilkan pada proses pembelajaran di Discussion Forum dan Structured Knowledge Creation.
Semua fungsi diatas dilakukan oleh pustakawan. Oleh karena itu, pustakawan sebaiknya punya kemampuan yang cukup dalam hal pencarian, pengolahan dan kemas-ulang informasi, serta kemampuan belajar secara cepat dan kemampuan berkomunikasi.

Aplikasi Open Source untuk Digital Library yang banyak dipakai adalah Greenstone (www.greenstone.org). Greenstone mudah digunakan dan tersedia untuk platform Unix dan Windows. Dukungan resmi dari UNESCO sebagai software digital library, membuat Greenstone banyak digunakan di negara berkembang. Apalagi Greenstone mempunyai fitur untuk distribusi digital library melalui CDROM.

Sosialisasi dan Promosi

Aplikasi sistem manajamen pengetahuan yang kompleks tidak akan berguna kalau tidak digunakan oleh komunitasnya. Karena itu perlu strategi yang tepat untuk memotivasi anggota komunitas agar menggunakan sistem.

Pertama, sosialisasi. Sosialisasi bisa dilakukan dengan melakukan edukasi kepada komunitas pemakai tentang layanan baru (intranet sistem manajemen pengetahuan) di perpustakaan. Edukasi juga harus disertai dengan pelatihan cara menggunakan sistem intranet.

Kedua, promosi. Promosi sebaiknya berisi manfaat intranet bagi komunitas pemakai perpustakaan. Zaman sekarang, biasanya produk berbasiskan teknologi akan berhasil bisa dikaitkan dengan gaya hidup modern yang produktif. Karena itu perlu dirumuskan secara tepat bagaimana mempromosikan intranet ini sebagian dari gaya hidup modern di perpustakaan.

Ketiga, reward (hadiah). Hadiah merupakan salah satu motivasi orang untuk berbuat sesuatu. Pengelola Perpustakaan sebaiknya perlu mengalokasikan dana untuk menyediakan hadiah bagi pemakai yang paling aktif dan banyak memberikan kontribusi penciptaan pengetahuan di intranet.

Keempat, Evaluasi. Suatu pengembangan sistem dianggap baik, bila secara transparan melibatkan pemakai dalam pengembangannya. Karena itu perlu secara berkala komunitas pemakai diajak berdiskusi mengenai usability sistem manajamen pengetahuan yang digunakan. Dari sini, akan didapat masukan-masukan bagi pengembangan sistem lebih lanjut.

Daftar Bibliografi

Abell, Angela; Oxbrow, Nigel. Competing With Knowledge: the information professional in the knowledge management age, London: Library Association Publishing, 2001.

Borgman, Christine L. “Now That We Have Digital Collections, Why Do We Need Libraries?”, Proceeding of 60th ASIS Annual Meeting, New Jersey: ASIS, 1997

Brown, John Seely; Duguid, Paul. The Social Life of Information, Boston: Harvard Business School, 2000


Burke, Sean M. Perl and LWP. Sebastopol: O’Reilly, 2002

DiBona, Chris; Ockman, Sam; Stone, Mark (editors). Open Sources; voices from the open source revolution. URL: www.oreilly.com/catalog/opensources/book.

Gregson, Kimberly. “Community Networks and Political Participation: developing goals or system developers”, Proceeding of 60th ASIS Annual Meeting, New Jersey: ASIS, 1997

Rosenbaum, Howard. “Intranet and Digital Organizational Information Resources: towards a portable methodology for design and development”, Proceeding of 60th ASIS Annual Meeting, New Jersey: ASIS, 1997

Rowley, Jennifer. Organizing Knowledge: an introduction to information retrieval, 2nd ed., London: Gower, 1992.

Siswoutomo, Wiwit. Membangun Web Service Open Source Menggunakan PHP, Jakarta: Elex Media Komputindo, 2004

Skyrme, David J. Knowledge Networking: creating the collaborative enterprise, Oxford: Butterworth, 1999

Stallman, Richard. GNU’s Not Unix Philosophy. www.gnu.org, www.fsf.org

Stallman, Richard. Free As In Freedom: Richard Stallman’s crusade for free software. URL: www.oreilly.com/openbook/freedom.

Wicaksono, Hendro. “Kompetensi Perpustakaan dan Pustakawan Dalam Implementasi Teknologi Informasi di Perpustakaan”, Visipustaka, vol.6, no.2, Desember 2004

Wurman, Richard Saul. Information Anxiety 2, Indiana: Que, 2001.

¶ Tulisan ini diposting ulang tanpa perubahan tanpa penyuntingan teks , teks asli diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , Arsip Multiply diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018

Perpustakaan Umum Berbasis Komunitas

Beberapa bulan yang lalu, penulis selama 2 minggu berada di Pekanbaru ibukota propinsi Riau untuk suatu urusan. Satu hal yang menarik buat penulis waktu itu, di beberapa koran lokal sedang terjadi polemik seputar relokasi Perpustakaan Umum dan Arsip Daerah Riau (selanjutnya disebut PUADR) setempat.

Polemik berawal dari kepindahan DPRD Riau dari gedung lama ke gedung baru. Gedung lama kemudian dijadikan tempat baru bagi PUADR. Yang menarik, lokasi baru ditengah kota ternyata mampu meningkatkan jumlah kunjungan pemakai perpustakaan menjadi 300%. Sebuah peningkatan yang cukup signifikan mengingat peningkatan itu terjadi hanya karena lokasi yang lebih strategis. Penulis yakin, peningkatan jumlah pengunjung bisa lebih tinggi lagi bila dibarengi dengan pengembangan koleksi dan layanan yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan komunitas pemakai PUADR.

Foto ini untuk Pelengkap artikel , pada artikel asli tidak terdapat foto

Masalah kemudian muncul ketika Bank Pembangunan Daerah (BPD) setempat, melalui Pemda, juga ingin menempati gedung DPRD lama tersebut. Dibanyak surat kabar lokal, polemik tergambar dengan terbentuknya dua kubu, yaitu pro PUADR dan pro Pemda. Yang pro PUADR kebanyakan para budayawan, pendidik serta akademisi. Sedangkan yang pro Pemda kebanyakan petinggi Pemda atau pejabat pemerintah setempat. Yang pro PUADR berargumentasi pentingnya pengembangan minat baca dan pengembangan sumberdaya manusia melalui perpustakaan umum. Yang pro Pemda berargumen perlunya BPD sebagai bank lokal menempati lokasi yang prestisius di tengah kota.

Sampai penulis kembali ke Jakarta, polemik masih berlangsung dan solusi yang terbaik masih terus dicari. Ada yang mengusulkan PUADR untuk pindah ke gedung lain, ada juga yang mengusulkan PUADR dan BPD berbagi tempat di gedung yang sama. Bagi penulis, apapun solusi yang diambil, sebaiknya Pemda Riau sebagai pihak yang punya otoritas harus betul-betul cermat dan cerdas menghitung semua untung dan ruginya bila ingin memindahkan PUADR dari gedung DPRD lama.

Di banyak negara maju, Perpustakaan Umum mempunyai peran sangat strategis dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Di Amerika Serikat dan Inggris misalnya, Perpustakaan Umum muncul dari inisiatif komunitas yang merasa perlu adanya sebuah perpustakaan umum untuk proses pembelajaran bersama. Kemudian baru didukung oleh pemerintah setelah didesak oleh komunitas yang menginginkan adanya dukungan pemerintah dalam bentuk alokasi dana dan tersedianya perangkat hukum (bottom-up approach).

Ini berbeda dengan kondisi Indonesia, dimana pendirian sebuah Perpustakaan Umum biasanya didorong oleh pemerintah yang kemudian “memaksakan” perpustakaannya kepada komunitas pemakai tanpa memperhatikan secara serius kebutuhan komunitas tersebut (top-down approach). Karenanya tidak heran dibanyak daerah di Indonesia, rata-rata Perpustakaan Umumnya sepi pengunjung dan koleksinya pun sangat menjemukan.

Belajar dari pengalaman pendirian Perpustakaan Umum di negara maju, terdapat beberapa hal yang patut kita amati mengenai fungsi-fungsi strategis perpustakaan umum dalam menigkatkan taraf hidup masyarakat.

Pertama, fungsi Perpustakaan Umum sebagai tempat pembelajaran seumur hidup (life-long learning). Perpustakaan Umumlah tempat dimana semua lapisan masyarakat dari segala umur, dari balita sampai usia lanjut bisa terus belajar tanpa dibatasi usia dan ruang-ruang kelas. Banyak program pemerintah, seperti pemberantasan buta huruf dan wajib belajar, yang penulis rasa akan jauh lebih berhasil seandainya terintegrasi dengan Perpustakaan Umum. Bila di sekolah orang diajar agar tidak buta huruf dan memahami apa yang dibaca. Maka di Perpustakaan Umum, orang diajak untuk terbuka wawasannya, mampu berpikir kritis, mampu mencermati berbagai masalah bersama dan kemudian bersama-sama dengan anggota komunitas yang lain mencarikan solusinya. Tugas Perpustakaan Umum membangun lingkungan pembelajaran (learning environment) dimana anggota komunitas pemakainya termotivasi untuk terus belajar dan terdorong untuk berbagi pengetahuan. Dalam konsep manajemen modern, hal ini disebut dengan Knowledge Management.

Kedua, fungsi Perpustakaan Umum sebagai katalisator perubahan budaya. Perubahan perilaku masyarakat pada hakikatnya adalah perubahan budaya masyarakat. Perpustakaan Umum merupakan tempat strategis untuk mempromosikan segala perilaku yang meningkatkan produktifitas masyarakat. Individu komunitas yang berpengetahuan akan membentuk kelompok komunitas berpengatahuan. Perubahan pada tingkat individu akan membawa perubahan pada tingkat masyarakat. Komunitas yang berbudaya adalah komunitas yang berpengetahuan dan produktif. Komunitas yang produktif mampu melakukan perubahan dan meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih baik.

Ketiga, fungsi Perpustakaan Umum sebagai agen perubahan sosial. Idealnya, Perpustakaan Umum adalah tempat dimana segala lapisan masyarakat bisa bertemu dan berdiskusi tanpa dibatasi prasangka agama, ras, kepangkatan, strata, kesukuan, golongan, dan lain-lain. Perpustakaan Umum sangat strategis dijadikan tempat anggota komunitas berkumpul dan mendiskusikan beragam masalah sosial yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Disini, perpustakaan tidak hanya menyediakan ruang baca, tetapi juga menyediakan ruang publik bagi komunitasnya untuk melepas unek-uneknya dan kemudian berdiskusi bersama-sama mencari solusi yang terbaik. Tugas pustakawanlah untuk mendokumentasikan semua pengetahuan publik yang dihasilkan dan menyebarluaskan ke anggota komunitas yang lain. Seorang pustakawan dituntut tidak hanya mampu mengolah informasi, tetapi juga harus punya kepekaan sosial yang tinggi dan skill berkomunikasi yang baik.

Keempat, fungsi Perpustakaan Umum sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah. Dari semua pengetahuan komunitas yang didokumentasikan di Perpustakaan Umum, fungsi perpustakaan berikutnya adalah melakukan kemas ulang informasi, kemudian memberikan kepada para pengambil keputusan sebagai masukan dari masyarakat. Dengan begini masyarakat akan punya posisi tawar yang lebih baik dalam memberikan masukan-masukan dalam pengambilan kebijakan publik.

Dari beberapa argumentasi diatas, maka pantas bila Pemda Riau serius mencarikan solusi yang terbaik bagi semua pihak. Jangan sampai salah langkah dan merugikan pengembangan produktifitas dan masyarakat Riau pada umumnya. Rhenald Kasali dalam tulisannya berjudul ”Social Capital, Trust dan Entrepreneurship: suatu pendekatan ekonomi mikro untuk mencapai a balanced society” mengutip pernyataan Michael porter yang mengatakan:

”Sebuah bangsa yang maju selalu dimulai dengan produktifitas. Buruh yang produktif, pabrik yang produktif dan dunia usaha yang produktif. Negara maju bukan dimulai dengan upah murah, subsidi atau keberpihakan emosional pada perilaku-perilaku tidak disiplin dan tindakan tidak produktif, melainkan pada kesejahteraan berbasis sikap-sikap positif, pendidikan dan moral kerja tinggi.”

Semua ini bisa dicapai dengan efektif dan efisien, salah satunya melalui Perpustakaan Umum yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan komunitas pemakainya. Perpustakaan Umum yang ideal, tidak hanya meningkatkan produktifitas dan taraf hidup masyarakat tetapi juga menjadikan komunitas pemakainya orang-orang yang kritis, berwawasan luas, dan tanggap terhadap segala problem sosial yang ada. Wallahu’alam.

¶ Tulisan ini diposting ulang tanpa perubahan tanpa penyuntingan teks , teks asli diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , Arsip Multiply diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018

Salah Kaprah Perpustakan Dijital di Indonesia

Salah satu tema populer beberapa tahun belakangan ini di dunia dokumentasi adalah tentang perpustakaan dijital (digital library). Tema ini populer seiring dengan makin maraknya penerbitan elektronik dan mudahnya orang untuk membuat dokumen elektronik. Di Indonesia, sistem perpustakaan dijital banyak diterapkan di perpustakaan perguruan tinggi. Ini dapat dimaklumi karena perguruan tinggi mempunyai banyak konten berharga seperti skripsi, tesis dan disertasi.

Untuk membangun sistem perpustakaan dijital, ada banyak aplikasi yang bisa digunakan, baik yang komersial maupun yang OpenSource. Di Indonesia, yang paling populer adalah Ganesha Digital Library (GDL) dengan lisensi GNU/GPL (www.gnu.org). GDL dibuat oleh KMRG (Knowledge Management Research Group) ITB. Sosialisasi GDL dilakukan dengan membuat inisiatif yang diberi nama Indonesia Digital Library Network (IndonesiaDLN). Sayangnya gaung inisiatif ini tidak lagi sekencang dulu.

Setelah sekian lama implementasi perpustakaan dijital di Indonesia, ada beberapa kesalahkaprahan terjadi yang menarik untuk didiskusikan.

Pertama, ternyata masih banyak orang (termasuk para pustakawan) yang belum bisa membedakan dan masih mencampuradukkan antara konsep “Perpustakaan Dijital” dengan “Automasi Perpustakaan” (library automation). Penulis pernah dimintai tolong untuk memberikan demo aplikasi perpustakaan dijital, ternyata yang diinginkan adalah aplikasi automasi perpustakaan. Seorang teman penulis --seorang web programmer-- memberi nama aplikasi buatannya sebagai digital library, padahal yang dibuat hanyalah katalog terpasang (online catalog).

Sebenarnya apa perbedaan mendasar sistem automasi perpustakaan dengan perpustakaan dijital? Sistem automasi perpustakaan adalah implementasi teknologi informasi pada pekerjaan-pekerjaan administratif di perpustakaan agar lebih efektif dan efisien. Apa saja yang termasuk pekerjaan administratif di perpustakaan. Diantaranya: pengadaan, pengolahan, sirkulasi (peminjaman, pengembalian), inventarisasi, dan penyiangan koleksi, katalog terpasang, manajemen keanggotaan, pemesanan koleksi yang sedang dipinjam, dan lain-lain. Sedangkan sistem perpustakaan dijital adalah implementasi teknologi informasi agar dokumen dijital bisa dikumpulkan, diklasifikasikan, dan bisa diakses secara elektronik. Secara sederhana dapat dianalogikan sebagai tempat menyimpan koleksi perpustakaan yang sudah dalam bentuk dijital.

Kedua adalah masalah aksesibilitas. Sistem perpustakaan dijital dirancang agar koleksi perpustakaan lebih mudah diakses dan jangkauan aksesnya lebih luas. Yang terjadi di Indonesia, koleksi dijital justru lebih sulit diakses daripada koleksi tercetak (printed). Bukan karena keterbatasan infrastruktur, tetapi karena kebanyakan pengelola perpustakaan dijital masih takut atau bahkan “tak rela” orang lain bisa membaca koleksi dijitalnya.

Foto ini untuk Pelengkap artikel , pada artikel asli tidak terdapat foto

Penulis sempat mengamati kegiatan pembangunan sistem perpustakaan dijital di sebuah perpustakaan perguruan tinggi. Dukungan pengelola universitas dari sisi dana sangat baik, tapi sekarang proyek tersebut mandek karena belum ada surat keputusan dari pengelola perguruan tinggi tentang siapa saja yang berhak membaca dan mendownload koleksi tersebut. Jadi sampai sekarang praktis tidak ada satu orang pun (kecuali administrator sistem) yang bisa membaca koleksi dijitalnya. Padahal koleksi yang dimasukkan sudah cukup banyak.

Penulis sempat mengusulkan agar segera dibuka akses minimal untuk lingkup perguruan tinggi itu saja, toh dari sisi keamanan sudah ada fitur user authentication built-in dan kalau mau bisa ditambahkan filtering di level alamat IP (Internet Protocol). Tetapi pihak pengelola perguruan tinggi masih khawatir dengan masalah copyright dan plagiarisme bila akses diberikan, meskipun hanya untuk lingkup universitas. Sebuah alasan yang tidak argumentatif. Plagiarisme sudah ada sejak dulu, ketika format dijital belum populer bahkan mungkin belum ada. Apapun bentuk media yang digunakan, plagiarisme akan selalu ada. Justru perpustakaan dijital bisa membantu mengurangi plagiarisme dengan cara memberikan akses informasi ke banyak orang, sehingga orang lain tahu siapa sudah mengerjakan apa. Lagipula, sebagai sebuah perguruan tinggi yang didanai oleh publik, seharusnya publik juga punya hak untuk mendapatkan akses hasil penelitian yang dilakukan perguruan tinggi tersebut.

Ketiga, masalah manajemen pengembangan sistem. Implementasi sistem perpustakaan dijital merupakan hal yang kompleks dan rumit. Karena itu perlu perencanaan yang matang, mulai dari white papers, spesifikasi fungsional sistem, model bisnis, manajemen teknologi, isu legal, manajemen sumberdaya manusia, prosedur, dan lain-lain. Sayangnya banyak implementasi perpustakaan dijital di Indonesia tidak memperhatikan hal-hal ini. Sehingga sering implementasi akhirnya mandek karena adanya hal-hal yang belum bisa diselesaikan di fase awal implementasi. Seringpula implementasi perpustakaan dijital dilakukan tanpa mendapatkan dukungan penuh dari institusi induknya. Implementasi perpustakaan dijital bukan merupakan hal mudah, terlebih lagi ia melibatkan banyak pihak. Supaya berhasil, harus mendapat dukungan penuh dari pihak-pihak yang terkait, dan yang tidak kalah penting adalah model bisnisnya harus jelas serta terdokumentasi.


Beberapa Isu Yang Patut Diperhatikan

Terkait dengan beberapa kesalahkaprahan diatas, ada beberapa isu yang patut diperhatikan terkait dengan implementasi sistem perpustakan digital.

Pertama, para pengelola sistem perpustakaan dijital hendaknya mengetahui esensi perpustakaan dijital. Yaitu agar koleksi perpustakaan lebih mudah diakses dan jangkauan aksesnya lebih luas. Karena itu adalah salah besar kalau perpustakaan dijital jadi lebih sulit diakses oleh pemakai perpustakaan, dengan alasan apapun.

Kedua, isu legal. Para pengelola sistem perpustakaan dijital hendaknya memahami secara jelas masalah legal terkait dengan konten dijital yang dimasukkan kedalam sistem perpustakaan dijital. Selain kompleks, isu ini juga selalu merupakan isu utama dalam implementasi perpustakaan dijital di Indonesia. Permasalahan utama implementasi perpustakaan dijital di Indonesia bukanlah pada sisi teknologi, tapi pada sisi non-teknologi. Sulitnya, seringkali para pengelola perpustakaan terlalu banyak berdiskusi berkutat hanya pada isu legal dan melupakan isu penting lainnya. Seolah-olah legal merupakan isu yang paling utama. Ketika masalah legal tidak kunjung selesai, akhirnya dibiarkan menggantung, sehingga terkesan tidak serius. Hendaknya sistem perpustakaan dijital yang dibuat nantinya, sudah punya dasar hukum yang jelas, sehingga nanti sistem tersebut tidak mandek lagi menunggu kepastian hukum mengenai dokumen dijital yang disertakan. Akan lebih baik bila institusi lain yang berhasil menerapkan sistem perpustakaan dijital, mau berbagi pengetahuan mengenai best practice yang telah dilakukan. Masalah krusial implementasi sistem perpustakaan dijital tidak hanya pada masalah legal, tetapi juga pada masalah sosial seperti bagaimana sistem perpustakaan dijital mampu meningkatkan antusiasme pemakai perpustakaan untuk terus produktif belajar, menghasilkan pengetahuan baru, dan mau berbagi pengetahuan.

Ketiga, terkait dengan isu pertama, tujuan utama perpustakaan digital bukan sebagai sarana preservasi koleksi. Koleksi dijital justru lebih rentan kehilangan data dan terjadinya inkompatibilitas. Untuk mengatasi masalah ini, isu-isu berikut ini harus diperhatikan.

Keempat, isu teknologi. Terkait dengan isu ketiga, maka masalah teknologi perlu mendapat perhatian serius. Media tempat menyimpan informasi digital selalu mengalami degradasi dan bisa rusak tanpa pemberitahuan sama sekali. Perangkat keras dan lunak seringkali ketinggalan zaman tanpa kita sadari. Karena itu perlu diperhatikan manajamen daur hidup (lifecycle management) koleksi dijital yang disimpan.

Kelima, isu manajemen konten dijital. Semakin besar volume dan kompleksitas dokumen dijital, maka akan mulai timbul masalah, diantaranya: pemeliharaan koleksi, temu kembali informasi (information retrieval), dan klasifikasi. Solusi yang bisa dilakukan antara lain: pembuatan prosedur standar untuk pemeliharaan koleksi, pemeliharaan sistem temu kembali informasi (perbaikan algoritma), dan pembuatan tesaurus.

¶ Tulisan ini diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , Arsip Multiply diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018

Mesin Pencari Tidak Dungu

Tulisan ini pernah dimuat di Koran Tempo Selasa 18 Januari 2005. Yang diposting disini adalah versi belum diedit oleh Koran Tempo (sekitar 7000 karakter). Sedangkan versi yang sudah diedit dapat dibaca di: milis pasarbuku (http://groups.yahoo.com/group/pasarbuku/message/20447). Dan artikel dari Rosa Widyawan bisa dibaca di: http://groups.yahoo.com/group/pasarbuku/message/20290.


Menarik sekali membaca artikel yang ditulis rekan Rosa Widyawan dalam kolom Periskop berjudul “Mesin Pencari: si dungu pemuas rasa ingin tahu”, di harian Koran Tempo edisi selasa 11 Januari 2005 lalu. Sebagai praktisi pekerja informasi, saya terdorong untuk ikut memberikan sedikit masukan untuk melengkapi tulisan tersebut.

Pertama, mengenai pernyataan bahwa “Para pustakawan belakangan risau atas kelangsungan profesi karena penggunaan internet”. Sebenarnya, tanpa ada serbuan internet pun, banyak perpustakaan yang sudah seharusnya “gulung tikar” ditinggal sepi para pemakainya. Sebabnya sederhana, perpustakaan tersebut tidak cukup adaptif menjawab perubahan kebutuhan pemakainya. Ibarat perusahaan komersial, perpustakaan gagal mengeluarkan produk dan layanan yang dibutuhkan oleh customer-nya.

Foto ini untuk Pelengkap artikel , pada artikel asli tidak terdapat foto
Sebaliknya di beberapa perpustakaan lain, seperti perpustakaan Depdiknas (dulu perpustakaan The British Council/BC), serbuan internet justru membawa berkah. Kunjungan pemakai dan anggota yang mendaftar serta memanfaatkan fasilitas perpustakaan lebih banyak dan konstan dibanding sewaktu masih dibawah manajemen BC. Anggota perpustakaan yang menggunakan fasilitas akses internet terlihat mahir berinternet (web). Kesimpulan sementara adalah: akrab dengan internet justru membuat banyak orang menjadi paham bahwa tidak semua informasi bisa diperoleh di internet. Mereka jadi lebih mudah akrab dengan Perpustakaan.

Selain itu pengelola perpustakaan Depdiknas juga melakukan promosi dan “menjual” produk serta layanan seperti layaknya perusahaan komersial. Ada product positioning, pricing strategy, marketing dan lain-lain. Koleksinya pun, bukan buku-buku sekolah atau buku kuliah, tetapi buku-buku yang merangsang orang untuk berpikir kritis dan memberikan wawasan baru. Koleksi-koleksi tersebut tidak akan didapat dengan browsing di Internet.

Memang betul ada pustakawan yang merasa terancam dengan makin maraknya implementasi Teknologi Informasi di perpustakaan. Tapi lebih dikarenakan kemalasan mereka dalam mempelajari perkembangan teknologi yang ada. TI itu sendiri sebenarnya memberikan peluang yang lebih besar bagi pustakawan untuk mengembangkan produk dan layanan perpustakaan yang lebih baik dan beragam. TI memudahkan penerapan manajemen informasi dan pengetahuan di perpustakaan.

Kedua, mengenai “perbandingan Web dengan Perpustakaan”. Penulis pikir, tidak seimbang membanding web dengan Perpustakaan. Web adalah sebuah media sedangkan perpustakaan merupakan learning environment--dimana para pengunjung selalu didorong untuk terus belajar dan berbagi pengetahuan yang dimiliki.

Dahulu ketika perkembangan TI sudah sedemikian pesat, para futuristik berlomba membuat ramalan-ramalan. Ada yang meramalkan bahwa konsumsi kertas diperkantoran akan semakin sedikit (paperless). Ada juga sosiolog yang meramalkan hubungan antar manusia akan semakin renggang karena makin tingginya interaksi antara manusia dengan komputer. Tapi fakta yang kemudian terjadi, World Wide Web ternyata masih belum menggantikan media cetak, apalagi Perpustakaan. Penggunaan kertas justru makin meningkat karena sebagian besar orang mem-print dulu artikel yang hendak dibaca. Industri majalah bahkan semakin subur. Dunia dijital ternyata juga belum mampu membuat manusia menjadi mesin-mesin mekanis dan terisolasi dalam dunia mesin. Yang terjadi justru sebaliknya. Makin banyak terbentuk komunitas dengan interes yang sama dan saling berbagi pengetahuan dalam media-media elektronik seperti mailing list dan chat room.

Sebagai sebuah media, Web mempunyai karakter yang berbeda dengan media non-elektronik dan akan terus berkembang sesuai dengan karakternya. Salah satu kelebihan utama web adalah unsur interaktifitas. Itu sebabnya pemakaian akses internet di perpustakaan Depdiknas dan warnet yang penulis amati, mayoritas mengakses website yang mempunyai unsur interaktifitas tinggi, seperti webmail (Yahoo Mail dan Hotmail), friendster.com dan lowongan kerja (karir.com). Sebagai sebuah learning environment, perpustakaan menawarkan hal-hal yang tidak didapat dari Web, utamanya interaksi langsung antar manusia (human touch).

Ketiga mengenai argumen bahwa “SGML (Standard Generalized Markup Language) merupakan salah satu penyebab gagalnya temu kembali informasi di Web”. Penulis melihat ada kesalahpahaman disini mengenai pemahaman SGML dan HTML. SGML merupakan protokol untuk membuat markup language, jadi bukan merupakan markup language itu sendiri. Sebuah markup language yang dibuat menggunakan SGML, disebut aplikasi SGML. Sedangkan HTML merupakan sebuah aplikasi SGML.

Ketika pertama digagas, SGML didesain untuk skala besar, dan tentu pada akhirnya lebih rumit untuk dipelajari dan digunakan. Sewaktu Tim Berners-Lee merancang HTML, dengan alasan kesederhanaan, dia membuang sebagian kemampuan SGML (untuk membuat dokumen terstruktur) dan mendesain HTML lebih berorientasi bagaimana dokumen ditampilkan (presentation-oriented). Karena itu tidak tepat kalau menyalahkan kekurangan HTML sebagai akibat kekurangan SGML.

Berners-Lee sendiri juga menyadari kelemahan HTML, dan kemudian melalui World Wide Web Consortium merancang “SGML” yang didesain untuk web, muncullah XML (Extensible Markup Language). Sama seperti SGML, XML bukan merupakan markup language tetapi seperangkat protokol untuk membuat markup language. XML muncul tidak untuk menggantikan HTML, tetapi menyempurnakannya.

Keempat, mengenai gagalnya metadata seperti Dublin Core dalam temu kembali informasi di Web. Dublin Core bukan merupakan bahasa format, tapi kesepakatan bersama inisiatif pengelola informasi untuk mendefinisikan informasi apa saja yang bisa dianggap representasi dokumen elektronik. Dublin Core bisa diimplementasikan dengan MARC (Machine Readable Catalog), XML atau HTML lewat meta tag-nya. Memang untuk memaksimalkan standar semacam Dublin Core, mesin pencari harus punya pengetahuan tentang definisi dokumen, tapi sebagian definisi dokumen seperti “keywords”, sudah didukung sejak lama oleh mesin pencari.

Pada akhirnya, mesin pencari seperti google pun punya keterbatasan. Sehebat apapun algoritma pengindeksan dan pencarian informasi sebuah mesin pencari, kemampuannya terbatas dalam menelusuri jumlah informasi yang sangat banyak. Dalam teori Information Retrieval, semakin tinggi recall (hasil pencarian), semakin rendah precision-nya (ketepatan pencarian).

Contoh solusi yang ditawarkan Google adalah dengan membuat penelusuran dalam lingkup domain yang lebih spesifik misalnya: Linux, BSD, Universitas, dan lain-lain (http://www.google.com/options/specialsearches.html). Kesimpulannya, dalam skala tertentu, intervensi manusia masih diperlukan dalam pengindeksan dan pencarian informasi. Karena itu perpaduan antara mesin dan manual oleh manusia tetap diperlukan, terutama bila jumlah informasinya sangat besar.

Yang perlu diperhatikan, eksistensi perpustakaan tidak akan hilang oleh sebuah teknologi bernama internet, apalagi oleh sebuah mesin pencari. Terlalu naif. Yang betul adalah, internet justru memberikan perpustakaan tenaga baru untuk layanan yang lebih efektif dan efisien. Sebuah mesin pencari, hanya mengindeks informasi yang tersedia di internet, padahal ada banyak informasi yang tersedia dalam berbagai format dan tidak bisa didapat di Internet. Betul sekarang makin banyak e-books, tetapi lebih banyak lagi buku yang dicetak. Mesin pencari dan perpustakaan mempunyai positioning yang berbeda. Mereka saling melengkapi dan memanfaatkan.

Saat ini, sudah bukan zamannya lagi seorang pustakawan hanya menjadi seorang intermediari informasi. Kalau hanya itu, niscaya bisa terdesak dengan makin menjamurnya mesin pencari dan katalog online. Pustakawan sekarang juga harus punya karakter kepemimpinan, mampu berkomunikasi efektif, mampu memotivasi orang lain, mampu mengatasi konflik, cerdas dan fokus. Hal-hal ini tidak mungkin digantikan oleh mesin. Mesin pencari tidak dungu, ia memang punya keterbatasan. Pustakawanlah yang bisa disebut dungu bila tidak mau berubah dan memperluas wawasannya dengan segala perkembangan teknologi yang ada.

¶ Tulisan ini diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , Arsip Multiply diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018

Manajemen Pengetahuan Vs Manajemen Informasi

Tulisan ini dimuat di Koran Tempo 17 Februari 2005

Beberapa tahun belakangan ini, istilah knowledge management (KM) menjadi bahasan di banyak disiplin ilmu, terutama yang terkait dengan manajemen dan teknologi informasi. Bahkan kini, istilah KM pun mulai menenggelamkan popularitas istilah information management (IM).

Masalahnya adalah apa sebetulnya perbedaan karakteristik dua istilah ini? Bagaimana penerapannya dalam dunia teknologi informasi?

Untuk itu, harus dimulai dengan melihat definisi KM dan IM dengan mempelajari hal yang lebih mendasar, yaitu definisi information dan knowledge.

F.N. Teskey dalam tulisannya, "User Models and World Models for Data, Information, and Knowledge", memberikan model:

Data --> Informasi --> Pengetahuan

Menurut Teskey, data merupakan hasil pengamatan langsung terhadap suatu kejadian atau suatu keadaan; ia merupakan entitas yang dilengkapi dengan nilai tertentu. Informasi merupakan kumpulan data yang terstruktur untuk memperlihatkan adanya hubungan antarentitas. Pengetahuan merupakan model yang digunakan manusia untuk memahami dunia, dan yang dapat diubah-ubah oleh informasi yang diterima pikiran manusia.

Model yang hampir sama ditawarkan Mike Powell dalam bukunya, Information Management for Development Organizations. Menurut Powell, data adalah koleksi terstruktur dari kumpulan fakta (structured collection of quantitative facts), informasi adalah data atau fakta dengan arti (data or facts with meaning) dan pengetahuan merupakan hasil atau keluaran atau nilai dari informasi (producing significance or value from information). Model lain yang mirip juga dikemukakan Nathan Shedroff, seperti dikutip oleh Richard Saul Wurman dalam Information Anxiety 2. Bahkan Shedroff menambahkan satu lagi tahap sesudah pengetahuan, yaitu kebijaksanaan (wisdom).

Menurut penulis, model Data --> Information --> Knowledge (DIK) di atas mempunyai beberapa kelemahan. Pertama, data dianggap sesuatu yang bebas nilai. Artinya, proses pengambilan suatu fakta menjadi data dianggap bebas nilai sampai ia diinterpretasikan menjadi informasi. Bagi para sosiolog aliran konstruksionis, definisi data seperti di atas tidak tepat. Bagi mereka, fakta tidak dibentuk secara ilmiah, tetapi merupakan sesuatu yang dibentuk atau dikonstruksi. Setiap orang bisa mempunyai konstruksi yang berbeda-beda atas suatu fakta, tergantung pada pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu, dan lingkungan pergaulan atau sosial tertentu. Berarti, sudah ada proses interpretasi manusia melalui pengetahuan sebelumnya dalam mengumpulkan data (Eriyanto, Analisis Framing, 2002).

Foto ini untuk Pelengkap artikel , pada artikel asli tidak terdapat foto

Kedua, model di atas tidak memberi batasan yang jelas kapan sesuatu itu dianggap informasi, kapan sesuatu itu sudah bisa dianggap pengetahuan. Kalau kita mendapat pesan bahwa "Air yang dipanaskan pada suhu mendidih 100 derajat Celsius bisa mematikan kuman. Dan bila kuman tersebut mati, penyakit kolera akan sulit berkembang", apakah ini suatu informasi atau pengetahuan? Batasannya sangat tidak jelas.

Dengan alasan-alasan di atas, penulis menawarkan model lain dalam membedakan antara informasi dan pengetahuan.

- Informasi adalah sesuatu yang kita bagi melalui beragam media komunikasi yang ada.
- Pengetahuan adalah sesuatu yang masih ada di dalam pikiran kita.
- Informasi sama dengan pengetahuan yang dibagi atau telah dikomunikasikan melalui berbagai media yang ada.

Dengan pembedaan yang lebih jelas antara information dan knowledge, selanjutnya kita mulai definisikan IM dan KM. IM adalah teknik pengaturan atau organisasi agar informasi mudah dicari dan digunakan kembali oleh pemakai. Yang termasuk dalam proses manajemen informasi, antara lain, pengumpulan informasi, pengolahan informasi, kemas ulang informasi, dan temu kembali informasi.


Sementara itu, KM adalah teknik membangun suatu lingkungan pembelajaran (learning environment), sehingga orang-orang di dalamnya terus termotivasi untuk terus belajar, memanfaatkan informasi yang ada, serta pada akhirnya mau berbagi pengetahuan baru yang didapat. Yang termasuk dalam proses manajemen pengetahuan, antara lain, pembelajaran (individu, organisasi, kolaborasi), dan berbagi pengetahuan.

Secara sederhana dapat disimpulkan, KM mengurusi agar manusia di dalamnya terus produktif belajar dan berbagi pengetahuan (knowledge sharing) yang dimiliki. Adapun IM mengurusi informasi agar terkumpul, terorganisasi, dan mudah dicari serta digunakan. Informasi akan menjadi input bagi orang lain dan diolah menjadi pengetahuan baru.


¶ Tulisan ini diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , http://hendrowicaksono.multiply.com/item/link?url=/journal/item/5&subject=Manajemen%20Pengetahuan%20Vs%20Manajemen%20Informasi diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018

Friday, September 7, 2018

Template SLiMS 8 : Desawarna Teh

Template ini adalah template HTML yang saya unduh dari FreeHTML5.co saya redesain ulang dengan konsep bungkus teh celup smile , penggantian font , warna dan efek santai. Dari HTML tadi kemudian saya porting ke php sehingga dapat digunakan ke dalam SLIMS SLiMS.Web.Id



Dengan onepage design, big header, komponen komponen keren, terdapat footer yang keren , lihat screenshot bawah ! klik gambar untuk lihat ukuran besar

Untuk menggunakan nya / cara install template SLiMS 8.3.x desawarna_teh :

1. Download di GitHub saya :
 Download
2. Ekstrak ke slims8_akasia/template/
3. Login ke admin SLiMS , aktifkan template dengan mengeklik System > Theme > Pada Template desawarna_teh klik > Activate
4. Selamat menikmati desawarna_teh


Monday, May 7, 2018

Template OPAC SLiMS 8.3.x / 8.4.x Desawarna Melkinov

Dibulan mei ini saya share template free Desawarna Melkinov. Template ini awal nya adalah template HTML yang ringan tanpa banyak animasi dan tanpa banyak gambar. Dibuat oleh

Saya porting ke SLiMS 8 buat sahabat SLiMerS semua , free kalau mau kustomisasi template bisa Wapri saya ya ;) 

Berikut tampilan template Desawarna Melkinov. Warna saya buat seperti warna warna bendera Jerman. Dan tanpa menu ringan !!

Search Box


Template Visitor

Detail Biblio

List Pencarian

Footer




Download di :

Download Template

Thursday, February 22, 2018

Template SLiMS 8.3.X Desawarna Jambu

Template SLiMS 8.3.X Desawarna Jambu.

Template Ini Free Open Source yang saya porting dari sebuah template free , saya sesuaikan ke dalam SLiMS 8.3.x entah SLiMS versi 8.4.x , SLiMS nya awal nya sya download dari github.



Template ini di desain onepage dalam satu page anda dapat menampilkan profil profil perpustakaan anda dari layanan , jumlah koleksi , dan semua terkait layanan di perpustakaan Anda. Dengan template ini SLiMS akan terasa seperti website

Template ini menggunakan font Muli , dan warna merah jambu yang nikmat, humm dijamin pengunjung betah berlama lama mengunjungi web / opac perpustakaan Anda.

Berikut screenshot template nya,


Tampilan Index
Tampilan Detail Judul
Tampilan Visitor


Owh ya kalau mau template lain yang ingin sesuai kebutuhan Anda , hubungi saya ya di nomer WhatsApp  085-7400-6996-7. siap diorder template yang sesuai keinginan Anda

Download

Berikut link download nya , silahkan download dan pakai di SLiMS anda. Sangat mudah dan bagus

Download Template Desawarna Jambu

Cara Install 

Belum tahu cara install . Ada tutorial nya cara install template slims. Untuk menginstall nya Inshallah mudah ikuti saja Tutorial Cara Install Template

Sunday, February 4, 2018

Template SLiMS 8.3.X Desawarna Studio

Template SLiMS 8.3.X Desawarna Studio

Di awal Februari ini saya akan berbagi template free gratis Template SLiMS 8 Desawarna Studio , template ini saya porting dari sebuah template web HTML 5 - diubah ditata agar dapat digunakan ke dalam SLiMS. dapat digunakan di SLiMS 8.3 keatas diversi sebelum nya silahkan coba sendiri. Oh ya ini open source no waranty , open spurce tanpa garansi , gunakan nikmati dan perbaiki sesuai keinginan anda. Untuk melihat gambar klik saja ...








Desain mode one page yang mudah untuk menampilkan keunggulan profil perpustakaan anda. Elegan dan modern public akan terpukai dengan tampilan SLiMS anda. wooooowww

Download Template SLiMS 8 Desawarna Studio Sekarang

 Segera download dan pakai Gratis dari SLiMS Kudus.web.id & Desawarna.com

Download Template SLiMS 8 Desawarna Studio

Cara Install Template

Cara install template slims 8 , baca tuturial Cara Install Template

Artikel Terbaru , Baca aja

Arsip Blog

Menyenangkan