Model Open Source Untuk Mengembangkan Kompetensi Diri

Sebagian dari Anda tentu kenal dengan gerakan open source yang
meramaikan dan turut memacu inovasi di bidang TI; suatu model
pengembangan perangkat lunak secara terbuka yang memungkinkan akses ke
source code program dan mendorong keterlibatan tiap orang agar
berkontribusi dalam pengembangan software. Ada banyak program open
source yang tersedia, diantaranya yang populer adalah Linux.

Foto ini untuk Pelengkap artikel , pada artikel asli tidak terdapat foto
Eric S. Raymond mengatakan model pengembangan software yang terbuka
seperti ini dengan istilah The Bazaar. Dalam sebuah bazaar, tiap orang
datang dengan kepentingannya masing-masing. Mereka boleh melihat
sepuas-puasnya barang-barang yang ditawarkan. Bila tertarik, mereka
diberi kebebasan untuk mencoba dan memperbaikinya bersama-sama. Ini
berbeda dengan model pengembangan software konvensional yang
dikembangkan secara tertutup oleh segelintir orang (The Cathedral). Bisa
dikatakan, gerakan open source telah menemukan momentumnya seiring
dengan mudahnya akses internet yang memungkinkan para pengembang
perangkat lunak dari seluruh dunia saling berkomunikasi dan bertukar
program.

Saya pernah aktif mengembangkan perangkat open source yang saya namakan
Igloo OpenSource (selanjutnya disebut Igloo). Apa itu Igloo? Adalah
aplikasi yang digunakan untuk meng-online-kan database ISIS di web.
Sedangkan ISIS adalah aplikasi freeware yang dibuat oleh UNESCO untuk
kebutuhan data bibliografi. ISIS banyak digunakan di perpustakaan negara
berkembang termasuk Indonesia. Sewaktu teknologi komputer mulai
diimplementasikan di perpustakaan, ISIS termasuk salah satu perangkat
lunak yang paling banyak digunakan. Sampai saat ini, implementasi ISIS
di Indonesia bahkan sudah sampai ke berbagai pelosok. Sungguh suatu
pangsa pasar yang luar biasa besar.

Sewaktu ISIS dibuat oleh UNESCO, perkembangan internet belum sepesat
sekarang. Web bahkan belum ada. Sehingga sewaktu web mulai banyak
digunakan sebagai media penyebaran informasi, mulai muncul masalah
bagaimana meng-online-kan ISIS di web. Saya, yang seorang pengangguran
kala itu, melihat ada ceruk pasar yang bisa dimanfaatkan yaitu membuat
web companion untuk ISIS.

Untuk bahasa pemrogaman web, saya gunakan PHP (www.php.net) yang
merupakan bahasa pemrogaman web open source yang paling populer. Agar
PHP bisa membaca database ISIS secara natif diperlukan modul tambahan.
Untung ada PHP-Openisis yang merupakan PHP extension module yang dibuat
menggunakan C library dari OpenISIS. Baik OpenISIS dan PHP-Openisis juga
merupakan perangkat lunak open source. That's the beauty of Open Source,
Knowledge Sharing!

Rilis Igloo pertama kali ke publik adalah versi 1.4 sekitar awal
September 2004. Setiap rilis diumumkan dibanyak milis (mailing list)
komunitas pustakawan Indonesia seperti the_ics@yahoogroups.com, tetapi
diskusi teknis Igloo banyak dilakukan di milis ics-isis@yahoogroups.com.
Distribusi file Igloo masih menggunakan web hosting gratisan di
geocities.com. Berikutnya dirilis versi 1.5 dan versi 1.6. Sampai versi
1.6 inisiatif pengembangan Igloo masih dilakukan sendiri oleh saya dan
belum mendapat kontribusi dari komunitas pemakai ISIS.

Setelah rilis 1.6, mulai banyak bug report dari pemakai Igloo. Ini
berita bagus, karena model open source mulai bekerja. Mulailah dirilis
versi 1.7, 1.8, 2.0, 2.1, 2.2, 2.3, 3.0, 4.0, dan yang paling baru versi
5.0 untuk menjawab semua masukan dari pemakai. Igloo sekarang tidak
hanya bisa digunakan untuk meng-online-kan ISIS ke web, tetapi juga bisa
digunakan untuk membangun database foto dan perpustakaan dijital. Karena
permintaan pemakai pula, dibuat juga versi Igloo untuk distribusi lewat
CD-ROM yang diberinama "Distro" (distributable Igloo). Sedangkan untuk
kebutuhan automasi sistem perpustakaan dibuatlah X-Igloo. Kontribusi
pemakai Igloo sekarang tidak lagi sekedar bug reporting, tetapi juga
sudah melakukan perbaikan coding program secara langsung. Ini luar biasa
mengingat komunitas pustakawan relatif pemahaman TI-nya lebih terbatas.
Dukungan juga datang dari perpustakaan pusat ITB dalam bentuk web
hosting gratis sehingga situs web Igloo bisa diakses di
http://igloo.lib.itb.ac.id. Kunci sukses Igloo adalah: Release early.
Release often. And listen to your customers!

Apa manfaat yang saya dapat dari pengembangan Igloo? Yang jelas saya
merasa kompetensi saya melesat jauh. Saya di-"paksa" untuk belajar
banyak hal. Dari sisi teknis TI saya belajar membangun aplikasi PHP yang
aman, reliable dan minimum resource usage. Juga belajar membangun API
dan tehnik coding dengan source code yang readable sehingga mudah
dipelajari oleh programmer lain. Saya juga harus mempelajari (meski
sedikit) implementasi ragam protokol web seperti HTTP, XHTML, CSS,
Aksesibilitas, Semantik Web, dan lain-lain.

Dari sisi non-teknis saya belajar merancang desain aplikasi,
dokumentasi, dan manajemen SDM. Tanpa desain aplikasi yang baik, akan
kesulitan dalam pengambilan keputusan dari banyaknya masukan yang ada.
Tanpa dokumentasi yang baik, aplikasi sebaik apapun, bakal sulit
digunakan orang. Motivasi adalah faktor utama sebuah proyek open source
agar bisa terus berjalan. Untuk itu perlu dijaga faktor motivasi dan ego
tiap pemakainya.

Selain masalah kompetensi, ada hal-hal menyenangkan lainnya yang saya
dapat dari mengembangkan aplikasi open source. Pertama, diapresiasi oleh
banyak orang. Saya makin dikenal oleh banyak komunitas pustakawan, tidak
hanya dalam negeri tetapi juga luar negeri. Kedua, dianggap kompeten
mengenai implementasi TI di perpustakaan. Terkadang bahkan sering dikira
sarjana komputer atau lulusan ITB, padahal saya dulu kuliah di Fakultas
Sastra. Ketiga, rasa senang karena aplikasi buatan penulis digunakan di
banyak perpustakaan dalam dan luar negeri seperti beberapa negara
Amerika Latin. Keempat, mendapatkan penghasilan tambahan dari berbagai
perpustakaan yang menginginkan dedicated support untuk implementasi
Igloo, termasuk kustomisasinya. Kelima, menambah portofolio, sehingga
sangat berguna dalam mencari pekerjaan. It works well for me! Selamat
mencoba!

¶ Tulisan ini diposting ulang tanpa perubahan tanpa penyuntingan teks , teks asli diarsipkan dari Blog Multiply Pak Hendro Wicaksono , Arsip Multiply diakses pada 25 Oktober 2016
¶ Sumber Foto https://mobile.facebook.com/photo.php?fbid=10154309756769538 diakses pada 3 Oktober 2018